Liputan6.com, Jakarta: Kekalahan beruntun dari Sevilla dan Barcelona, kebobolan tujuh gol dalam dua laga, lambaian sapu tangan putih dari para Madridistas saat El Clasico, dan rumor konflik dengan Cristiano Ronaldo. Itu semua ternyata tidak lantas membuat Rafael Benitez didepak dari kursi pelatih Real Madrid. Presiden Florentino Perez pada Senin (23/11) menyatakan tetap mendukung Benitez.
“Saya sangat memahami kemarahan para fans setelah pertandingan Sabtu lalu. Tapi, kita butuh persatuan. Rafa Benitez baru saja memulai kerjanya. Kita harus membiarkan dia bekerja dan yakin kemenangan-kemenangan akan datang,” tutur pengusaha konstruksi berumur 68 tahun tersebut.
Putusan itu tentu mengecewakan bagi mereka yang melambaikan sapu tangan putih di Santiago Bernabeu, Sabtu lalu itu. Kalah dari Barcelona memang hal biasa. Namun, kalah dengan margin empat gol di kandang sendiri adalah hal langka. Terakhir kali itu terjadi pada masa pelatih Juande Ramos musim 2008-09 saat Los Blancos kalah 2-6.
Dalam El Clasico pada Sabtu lalu, tampak jelas ketidakmampuan Benitez menyiapkan taktik jitu. Terlepas dari ketangguhan Claudio Bravo di bawah mistar gawang lawan, kekeliruan taktik Benitez sangat terlihat nyata. Ini bak tirai kelabu bagi para Madridistas. Mereka tak bisa lagi terlalu berharap untuk melihat Ronaldo cs. berjaya karena Barcelona adalah rival di Divisi Primera dan Liga Champions.
Akan tetapi, putusan sang presiden sebenarnya bisa dipahami. Bagaimanapun, terlalu dini menghakimi pelatih yang baru bekerja sekitar lima bulan. Lagi pula, baru Sevilla dan Barcelona yang mengalahkan mereka. Sebelumnya, baik di Divisi Primera maupun Liga Champions, Madrid tak terkalahkan. Jadi, tak cukup alasan untuk menyebut Benitez telah gagal total.
Dalam periode keduanya memimpin Madrid, Perez memang tak lagi cepat kecewa dan reaktif. “Saya sekarang lebih bijak dan telah belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada masa lalu,” kata dia pada 2009.
Sikap lebih bijak itu antara lain lebih sabar terhadap pelatih. Sejak kembali ke kursi presiden klub, tak satu pun dari Manuel Pellegrini, Jose Mourinho, dan Carlo Ancelotti yang didepak pada pertengahan musim. Walaupun selalu diwarnai ketegangan, Perez hanya melepas ketiganya pada akhir musim.
Ini berbeda dengan periode pertamanya pada 2000-2006 yang diwarnai pemecatan terhadap Mariano Garcia Remon dan Vanderlei Luxemburgo saat memasuki Desember. Itu tak termasuk Jose Antonio Camacho yang mundur setelah hanya melakoni enam pertandingan.
Advertisement